The Main Hub Of International Transport… But Not Local

30 05 2008

These points are ironically funny about Jakarta’s own Soekarno-Hatta International Airport:

  • there’s no way to get to it other than by road. No high-speed train access, nothing. Except if you fly in from other cities…
  • there’s only 2 ways to get in by road: through the freeway and through a back entrance, and they are very far from each other. So if one passage is blocked you have to take a 2-hour detour to get to the other.
  • the main freeway passes a a long swath of swamp. Yes, a swamp. Only recent flooding and global warming has caused the government to think about fixing or rising the road.
  • The bus service to and from the airport is irregular at best. What’s the point of riding the bus if you don’t know the schedule?
  • City check-in counters don’t get you squat if the roads are jammed all the way to the airport… which they most often are.
  • You’re in for the time of your life waiting for checked baggage. I don’t know why, every one tends to try to get the best position at the baggage conveyor belt, as though as they want to get the first bag out.
  • Fast food is bas as it is at any given mall, and at the airport it’s even worse at almost double the price.
  • For a place where people do a lot of waiting, there’s not an awful lot of seats. And the seats that are available, have nests of cockroaches inside.
  • For an international gateway to Indonesia, the lighting is like a beat-up off the track shopping centre. Lot’s of lights but bad illumination. But bright enough so you can see the cracks in the cement.
  • You can choose from a multitude of taxi brands, official or non-official, but you never know which one will rip you off or take you on the scenic route.
Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


[Don't Listen To This]

29 05 2008

Kenapa sih?

Mungkin karena sudah terlampau sering dan terbiasa mendengar bisingnya klakson, knalpot, suara orang berantem, suara orang ngomong di HP kenceng-kenceng, suara ringtone HP kenceng dan ganggu, suara musik kenceng dari kios-kios penjual CD dan DVD bajakan, teriakan kenek dan penjual minum, pengamen, pengumuman car call, suara proyek bangunan… orang Jakarta jadi tidak bisa menyimak.

Simply put: people can hear but they can’t listen anymore.

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


BBM adalah…

28 05 2008

Benar-benar Memusingkan

Beha Bermotif Macan

Bilang-bilang ke Mama

Bongkar-bongkar Majalah

Bosan Berujung Mengantuk

Beruang Buka Madu

Black Berry Menyebalkan …. memang iya!

Bedak Berlapis Menawan

Bibir Berlipstik Merah

Banting Bedil Mainan

Beringasan Bila Menyetir

Bandot Berbibir Monyong

Bimbang Berakibat Menyesal

Binal, Buas, Menghanyutkan

Bapak Berbuat Memalukan

Bincang-bincang Malam

Besok Bawa Makanan

Berbicara Bebas Makna … seperti blog ini mungkin

Berburu ‘Binatang’ Malam

Bunyi Bergelegar Meminta …. makan

Botol Berisi Maut

Bakal Bikin Miskin

Berpesiar ke Bali, Mari! (pengen)

Bakso Bulat Mengenyangkan

Baca Blog Malu-maluin

….

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


Mungkin Sedang Ada Semacam Lomba?

27 05 2008

Kenapa sih?

Jumat dan Sabtu malem suka ada sekelompok pengendara motor berkeliaran, rata-rata 10 motor dengan rata-rata jumlah penumpang 2-3 orang, ngebut, nggak pake helm (sepertinya pici putih yang dipakai sudah cukup melindungi), berselempangkan sarung, dengan bawa bendera besar?

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


Jakarta, The City Of The Pointless

26 05 2008

Hey, I may be wrong, but what does doing anything of the below accomplish anything?

  • burning tyres
  • blocking up the roads and jamming up traffic
  • spray-painting random government-owned vehicles
  • spray-painting public facilities
  • stone throwing (any direction)
  • verbal harrasment
  • and so on… there are so many ways to enact anarchy

Maybe this is what they should do (‘they’ purposely vague in this sense):

  • instead of burning tyres, maybe burn fat?
  • instead of blocking roads, maybe block floods?
  • instead of spray-painting vehicles, maybe spray-paint your own and create a beauty contest?
  • instead of spray-painting public facilities, maybe spray-paint your own toilet? Those stains won’t remove themselves, why not just paint over them…
  • instead of throwing stones, why not throw… a party?
  • instead of verbal harassment, why not verbal poetry?
  • and instead of anarchy, why not stop being pointless and use your head? Yes, that thing inside the head too, called the brain – learn to use it.
Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


Level 42′s Timeless Song

25 05 2008

Odd Jakarta Fact #492:
The announcement of a theatre opening before a movie at MPX Grande, Pasaraya, uses a large 2×3 screen stating ‘The movie blah blah blah is about to begin in Studio 1′, accompanied by the intro of Level 42′s “Love Games”. I think it’s been like that since the song was actually a hit.

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


ambil foto harus minta ijin!

24 05 2008
(Originally posted Nov 16, 2005)
location: Plaza Semanggi, parking lot, lt. 9. 10 PM, cool night… nggak macet tuh.

I headed up there with a friend to check out the spectacular view of Semanggi, and the surrounding cityscape. Udah agak malem, and the parking lot was empty anyway, cuma ada beberapa mobil gitu.
Temen gue bawa tustel, dan mulai foto-foto the spectacular views….
lagi asik-asik foto-foto dan liat-liat…. mr security dropped by:

“dari mana mas”
“mmm… dari bawah tadi” ujarku. that is the strangest question to ask of a stranger.
“bukan, dari mana, ada surat keterangan nggak?”
“emang kenapa?”
sementara temen gue udah ngambil 3 snapshot.
“kalau mau ngambil foto di sini harus minta ijin, lantai 6″
ambil foto harus minta ijin? This doesn’t look like an art gallery. Isinya mobil-mobil, taneman pot, kabel-kabel listrik dan a few satellite dishes. Malem persis sebelumnya, gue foto-foto juga di situ dengan aman dan bebas raya. apa sih?
temen gue setelah lewat initial shock, langsung nunjukin:
“nih mas ya. ini kamera digital. nih, tadi foto yang saya ambil. nih, saya hapus. nih, ada lagi. saya hapus ya. ini yang terakhir. saya hapus juga. udah kan mas?”
“ya bener, udah”
bapak satpam tidak bergerak. pengen ikutan nimbrung kayaknya. di rumah ga ada yang ngajak ngobrol. duh, pergi kek.
temen gue sewot: “berdiri di sini boleh nggak?”
“ya boleh, tapi kan kita susah ngawasi… takut KESAMBET”
we were standing on the top of 9 stories. tapi kesambet susah kali ya.. wong temboknya 1,5 meteran lah, belom besi-besian yg lain. kesamber apa? struck by the cupid? OOOOO dikirain kita mau berbuat kali. well sir… you wanna stay and watch if we do anything funny?
gue langsung “PULANG YUK!”

ramah sekali orang-orang jakarta ya, dengan peraturan2 yang sungguh memperhatikan kepentingan umum. PLIS DEH!

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


Mungkin Sedang Ada Eksperimen Memadukan Hewan?

23 05 2008

(Pembicaraan nyata di food court sebuah mall Jakarta Selatan)

Calon pembeli: crepesnya ada rasa apa aja ya, yang panas?

penjaga: ada yang beef, chicken dan cheese.

Calon pembeli: itu beef-nya ayam?

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


dicari: copywriter lowongan kerja

23 05 2008

(Originally posted by City Gal on Jan 8, 2006)

Pagi-pagi, hari Minggu… baru bangun tidur, minum teh anget dan melaksanakan ritual wajib kaum pekerja Jakarta…

…nyari lowongan kerja.

It’s true that most Jakartans are soooooo hard to please. Belom punya kerjaan, nyari lowongan strata manajer. Udah punya kerjaan, pengen nyari yang gajinya lebih gede. Udah punya yang gajinya gede, pengen nyari yang gajinya lebih gede -kalau bisa dibayar pake dolar.

Tapi yang namanya habit ya nggak bisa diapa-apain sepertinya. Kayaknya udah refleks aja, Minggu adalah hari mencari lowongan nasional.

Saya termasuk kaum diatas. Kaum pencari lowongan di Kompas Minggu. Well, Sabtu juga sih sebenernya. Tapi ada mitos di kalangan pencari lowongan ini, bahwa the best vacancies itu ngumpulnya di Kompas Minggu. Jadi buat saya, acara nyari-nyari lowongan ini selalu dirapel di Minggu pagi. Sungguh kegiatan yang menyenangkan sekali… apalagi kalau kelihatannya ada pekerjaan yang menarik.

Bagi saya, ada tiga tipe iklan lowongan yang selalu bisa menarik perhatian. Mereka adalah…

Tipe 1
Iklan lowongan kerja yang mencerminkan perusahaan bonafit. Biasanya yang masang beginian nih contohnya Nokia, Adidas-Solomon, Siemens… pokoknya perusahaan yang namanya ‘bunyi’ di telinga. Dan iklan-iklan lowongan kerja bonafit ini biasanya nggak tanggung-tanggung. Setengah halaman koran, full-color dan ditulis dalam bahasa Inggris yang sungguh sempurna. Alamat perusahaan jelas banget, malah kadang offering salary juga ditulis dengan jelas. Good and great. Kadang baru ngebaca aja udah deg-degan… timbul rasa sedikit kurang pede tapi hasrat melamar (bila ada posisi yang cocok dengan kualifikasi) langsung meninggi.

Tipe 2
Iklan lowongan kerja yang memang mencari posisi yang saya incar, namun bersifat sedikit misterius. Misalnya: “An established Production House is seeking…” an established itu maksudnya sampe mana ya. Offering salary juga nggak dicantumkan. Buat yang beginian, biasanya memancing saya untuk menelepon rekan-rekan yang bekerja di bidang yang ditawarkan guna memancing kira-kira perusahaan mana yang sedang mencari pegawai. Dan… biasanya berhasil. Alamat perusahaan juga kadang cuma ada e-mailnya atau PO.BOX. Ini sih tergantung… kalau dari gosip-gosip beredar kedengaran menjanjikan, saya akan mencoba melamar… tapi kalau enggak… agak sedikit males.

Tipe 3
Iklan lowongan kerja yang ngga mungkin banget untuk dilamar -berhubung secara kualifikasi belum memenuhi-, tapi sungguh menggoda karena penawaran benefit, gaji bahkan job descriptionnya sungguh mendetail. Biasanya dicantumkan oleh badan-badan dunia kelas berat seperti UNICEF atau Kantor-kantor kedutaan besar asing… atau NGO yang lagi ngetrend saat ini. (Which often makes me wonder: katanya non-governmental organization yang non-profit… kok gajinya pada gede-gede banget ya?) Biasanya, kalau lihat kualifikasi untuk NGO, banyak sih yang bisa saya penuhi… tapi lokasi penempatannya pasti bikin orang tua saya mendelik. Jadi mendingan enggak deh.

Dari tiga tipe lowongan di atas, ada satu tipe rahasia (mari kita sebut saja tipe rahasia 4) yang selalu jadi hiburan disaat ritual cari lowongan itu tiba.

Tipe rahasia 4
Iklan lowongan kerja dengan grammar yang salah. Yang beginian banyak banget juga… dan saya heran kok koran se-prominent Kompas mau nerima iklan kacau begini… hkahakhakhakhak… Behold our examples:

An manufacturing companies group is looking for new employees with conditions:
- Healthy
- Not older than 25
- Bachelor degree in Accounting, preferable overseas graduate
- Honest
- Excellent English

Who wouldn’t need somebody with excellent English for THAT company? WUAHAHAKHAKHAKHAKHAK!!!

Ada lagi iklan lowongan yang masuk kategori ‘dia pikir orang bakal tertarik kali yeee…’ dan contohnya adalah sebagai berikut… (bear in mind that this is NOT fictional. This is real)

Poor? Want Money? Get Rich?
Work with us! Get incomes in dollar!
Can get married after working 3 months!

Shit. I was laughing so hard when I read that ad. It was really REALLY pathetic.

Sebenernya banyak banget contoh-contoh gokil iklan lowongan kerja ancur beginian… but then, I figured… bentar ya… saya cari dulu koran-koran minggu lalu… and I’m gonna scan ‘em for your eyes only! For the time being… let me just post this ad…

Dicari
Copywriter untuk iklan lowongan kerja

Persyaratan
Dapat berbahasa Indonesia dan Inggris dengan sempurna
Tidak sok tahu
Tidak sok Inggris

PLIS DEEEEHHHHHHHH!!!!!!

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


Jalan Tol

21 05 2008

(Originally posted by City Gal on Nov 17, 2005)

Kemaren ini saya ke Bandung, dan menemukan sebuah hal yang layaknya diperhatikan sama bapak-bapak penegak keamanan pengemudi jalan raya (eleuh, emang ada?).

Jadi gini, di Cipularang itu ada spanduk segede-gede tolol yang tulisannya gini:

“Selalu Gunakan Sabuk Pengaman Demi Keselamatan Anda. Pesan ini disampaikan oleh… endeskrey endebrey endefrey…”

Kalimat yang belakang gak keliatan secara mobil saya udah lewat dibawah spanduk tersebut. Lagiaaan, ditulisnya pake font yang bikin orang memicingkan mata dulu buat ngebaca. No wonder deh kecelakaan jalan tol itu gede angkanya. Secaraaaa… penyebabnya mungkin ya itu… terlalu banyak distraction yang nggak penting dengan desain yang juga gak diperhatikan dengan baik. Mo pake sabuk pengaman juga gak ngaruh kaleeee…

Tengsin gak sih kalo dipikir-pikir ketika ditanya orang…

“Bo, kaki lu patah kenapa?”
“Kecelakaan di tol”
“Astaga… ditabrak truk kah? Atau kepleset jalan licin?”
“Ehng…hh… itu… gara-gara baca spanduk…”

DUAAANGGG!!!

Sebelumnya, buat yang pada suka gregetan sama tingkah laku pengemudi, pengendara motor dan pejalan kaki… even polisi… boleh mampir ke site ini. Ckckckck… mbok yaaa yang tertib dikit gitu loh…

Plis deeehh…

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


Taxi

20 05 2008

(Originally posted by Chibi on Dec 05, 2005)

Walau ia dikenal sebagai alat transportasi paling mahal di Jakarta, tidak bisa dipungkiri bahwa taxi adalah alat transportasi paling nyaman. Taxi emang enggak ‘macet proof’, dan suka aja ada hal2 nyebelin atau ajaib yang didapet dari naik taxi. Dari mulei urban myth supir taxi yang bekerja sama dengan perampok untuk ngejahatin penumpang, sampai hal-hal kecil yang sebenernya enggak penting seperti bapak supir yang suka kebablasan curhat, enggak punya uang kecil buat kembalian, dan lain lain.

Brand taxi emang hal paling penting. So far sih, taxi paling top emang enggak ada yang nyaingin Blue Bird (untuk pemakaian sehari-hari yaaa..jadi Silver Birdsih kagak masuk itungan buat dompet gue-gue doang mah). Sebagai runner up, Gamya bisa jadi pertimbangan,
soalnya dia masih satu keluarga ama Blue Bird. Berikutnya, kalo dalem posisi kepepet amat, Express masih lumayan aman dan nyaman kok. Sisanya sih, kecuali kalo elo emang jago taekwondo, mending cari alternatif laen (seperti nelfon temen elo yang bermobil terus minta dijemput di *nama lokasi elo berada*).

Tapi bersikap ‘branded’ dalam hal pemilihan taxi emang cuman berguna buat memperkecil resiko-resiko yang mayor. Biar taxi bagus pun, tetep aja ada hal-hal minor nyebelin yang enggak bisa terhindarkan.

Pagi ini gue berangkat lebih pagi dari biasanya karena ada meeting di daerah Cideng jam 10 pagi. Kosan gue terletak di daerah Tulodong, jadi sebenernya jauh tapi ya nggak jauh-jauh amat. Biasanya sih setengah jam, maximum 45 menit, dan enggak lebih dari 25 ribu perak.

Gue berangkat jam 9.30 dengan taxi pesenan merk *tiiiiiiiiiiiiit* (sensor demi kepentingan pihak yang berkaitan). Supirnya pendiem (good sign, gue paling gak suka pagi-pagi udh dicerewetin supir yang terlalu ramah atau terlalu banyak komentar).

“Ke Cideng Timur, Pak..”, kata gue. Biasanya, yang udah-udah sih enggak ada masalah. Itu kan area yang enggak terlalu ajaib buat supir taxi kan?

Mungkin karena udah terlena selalu dapet supir yang tau jalan, gue (yang notabene asli Bandung dan walau tinggal di Jakarta udah 4 taun tapi tetep enggak bisa
apal jalan) jadinya ya enggak terlalu apal rute jalan dari Tulodong ke Cideng. Tau sih dikiiiit, tapi ya gak luar kepala amat, gitu. Standrlah, entar kalo udah sampe di jalan Cideng-nya gue bakal yakin harus ke mana.

Anyway, si supir pendiem itu hanya mengangguk sopan. “Good…”, kata gue dalem hati. Gak akan terlalu banyak masalah di jalan, jadi sementara sang taxi meluncur, gue memusatkan pikiran gue ke hal-hal yang bakal gue kerjain hari ini.

WRONG!

Taxi meluncur melewati Monas, jalur yang biasa gue lewati kalau mau ke daerah itu, berarti memang si supir kayaknya emang tau harus ke mana nih, kata benak gue. Tapi enggak berapa lama kemudian..eh eh eh..loh..kok jadi kayak mau ke arah kota?

Gue udah curiga, tapi dasar guenya juga agak dodol, gue diem aja. Siapa tau si supir punya jalan laen untuk menghindari macet, kata hati gue yang emang lagi berusaha untuk tidak berprasangka buruk dulu.

LHA? kok malah sampe di Pecenongan? Perasaan Pecenongan ama Cideng itu…jauuuuuh deh???

Si bapak supir dengan pe-de-nya berkata “Udah di Cideng nih Non..”

“Pak..”, kata gue hati-hati “Bapak sebenernya tau nggak sih Cideng di mana?”

Si supir melakukan gesture standar orang bingung (garuk-garuk kepala), lalu berkata pelan “Oh iya ya, ini Pecenongan ya..saya kira Pecenongan itu Cideng…”

DUEWEWEWENG….!!!!

“Laen kaleeeeee Paaaaaak…..”, cuman itu kata-kata desperate yang keluar dari mulut gue, setengah nangis, setengah kesel, sepertiga panik. Jam tangan gue udh
tereak-tereak sepuluh pagi, dan gue ada di daerah macet, masih jauh dari tujuan gue, thanks to kedodolan si Bapak Supir (dengan sedikit sumbangan kedodolan gue yang terlalu gampang percaya ama orang).

Maka si Bapak pun berusaha untuk bertanggung jawab dengan muter balik (lha emang dia bisa apa lagi?). Sepanjang jalan, mulutnya sibuk komat-kamit “Cideng ya..Cideng…Cideng…” (apaan seeh? baca mantra kali ya dia? biar kita cepet sampe gitu?)

“Pak…”, kata gue lagi “Jadi Bapak itu tau nggak sih sebenernya Cideng itu di mana?”

Kembali gesture garuk-garuk kepala beraksi.

Celaka dua belas…Gak ada pilihan, gue pun menelfon kantor pusat si taxi tersebut, minta tolong mereka ngehubungin si supir lewat radio untuk ngasih direction yang bener ke mana ia harus menuju (yah maklum aja..penumpangnya bego juga).

Eh, si operatornya malah bilang dengan cuek “Ya suruh aja dia ngontak pusat lewat radio, bisa kok…”

KENAPA GAK DARI TADI????

Akhirnya, thanks to direction dari kantor pusat, setelah beberapa lampu merah yang diwarnai kemacetan serta beberapa kali muter kemudian, sampailah gue di Cideng pukul 10.30, dan gue harus membayar argo sebesar LIMA PULUH LIMA RIBU perak…

Sebelum turun, gue memberikan sedikit surat wasiat buat pak supir, “Pak..laen kali, kalo enggak tau jalan atau enggak yakin, mending ngaku deh di awal, jangan sok tau kayak tadi…”

Untungnya dia cukup sopan untuk mengangguk…

…..dan menjawab, “Iya..tapi tadi saya kira Pecenongan itu Cideng..enggak taunya Cideng itu bukan Pecenongan…*nyah nyah nyah nyah nyah*”

moral of the story: Jangan ngelamun kalo naek taxi.

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


tentang PK PK ditengah kemacetan…

19 05 2008

(Originally posted by City Gal on Nov 17, 2005)

Hm…

It is against my policy to blog in working hours… but I couldn’t help myself.  Dari tadi ngintip ke jendela, dan laporan pandangan mata nih… Rabu, 17 November 2005 pukul 13.17 jalan Kapten Tendean tampak lancar dan cenderung kosong.  Tunggu aja berapa jam lagi… pasti bentuknya udah gak keruan.  Ih.

Saya jadi inget jaman kerja di sebuah radio di ruas jalan utama MH Thamrin tahun 2001.  Sebagai produser morning show, saya tak pernah bermasalah dengan kemacetan pagi karena siaran dimulai tepat pukul 06.00 pagi.  Diatas kertas sih, saya bebas tugas jam 4 sore… tapi kenyataannya pulang jam 10 malem juga kayak biasa.  Lagi-lagi gak bermasalah karena emang udah gak macet.  Tapi pada suatu hari saya dengan isengnya nekat pulang jam 4 sore.  Pengen tau aja rasanya pulang kantor dengan matahari masih terang…

Suasana antara gedung Sarinah Thamrin sampai Bunderan HI memang sangat lancar.  Tapi lepas jembatan Dukuh Atas… OMIGOD!  Yang namanya mobil udah ngantri sengantri-ngantrinya!  PENUH BANGET!  Penasaran, saya melirik jam dan ternyata bener kok masih jam 4.15.  Sialan.  Mau telepon-teleponan sama temen… takut pulsa habis (secara waktu itu belom mampu langganan pasca bayar yaaa… yuuukkk..).  Mau denger radio… halaaahh… secara kerja di radio juga gitulooohh… BOSEN.  Mau nyalain tape… basi.  Akhirnya saya memutuskan untuk bengong, sambil memandang keadaan sekitar yang emang bikin stress.

Keadaan bikin stress ini tidak membuat saya sakit kepala… tapi perut tiba-tiba terasa cenat cenut menandakan kontraksi ringan.  Oh no.  Tanda-tanda alam memanggilkah?  Saya masih cuek, berdoa dalam hati supaya alam tidak memanggil ditengah kemacetan gila ini.

Lima belas menit berlalu, saya baru sampai didepan gedung Arthaloka.  Terjadi lagi kontraksi sialan yang waktu itu diagnosisnya adalah gara-gara kebanyakan makan ayam goreng TEKUN (Tenda Kuning) waktu makan siang.  Saya mulai senewen.  Langsung diri ini melancarkan jurus PK PK dengan tololnya.  Apakah jurus PK PK itu?  Maap yak… PK PK adalah Pantat Kepala Pantat Kepala.  Jadi kalo sakit perut ingin pupi dan ga bisa karena ga ada tempat, pindahkan sakit perut kamu ke kepala dengan cara menepuk pantat lalu menepuk jidat sambil menggumamkan mantra keramat “Pantat Kepala… Pantat Kepala…”  gituh.  Kata orang yang ngajarin saya sih niscaya hal ini dapat menghindarkan kamu dari malu karena cepirit…

Duapuluh menit berlalu dan saya tiba di depan gedung Dharmala yang keren itu…  Jurus PK PK tampak lumayan berhasil  tapi mendadak kontraksi terjadi lagi dan kali ini hebat sekali sampai merinding dan keringat dingin. Didepan saya ada tiga truk semen berendengan di satu jalur, disamping kiri ada satu mercedes yang supirnya belagu banget ogah disalip dan di jalur yang paling kiri sana ada suzuki charade tua yang rada kembang kempis.  Hayaaahhh sementara saya berada di jalur paling kanan.  Mau minggir juga nampak sulit karena udah di kiri pun tetap harus masuk jalur lambat dulu lalu nyari gedung yang cukup representatif untuk mengakomodasi panggilan alam yang datang disaat kurang tepat ini!

Akhirnya mercedes belagu dapat saya lalui dengan mental metromini walau supir mercedes itu ternyata jago bahasa Inggris (doi buka kaca nek… sambil teriak “F*CK YOU!!”).  Charade butut ya terpaksa mesti ngalah karena emang gak mampu juga ngeduluin saya…  dan sampailah saya di jalur lambat dengan kondisi kontraksi perut makin menggila.  Lewat Central Plaza… masuknya ngantri (ada apa pula sih dengan gedung itu?  Gak penting deh).  Lewat Atma Jaya… hayah… *mendadak terbayang WC kampus tercinta yang enggak banget*.  Dulu belom ada Plaza Semanggi cong… bentuknya masih Graha Purna Yudha yang kelihatannya berhantu itu.  Akhirnya saya memutuskan untuk bandel dan masuk lagi ke jalur cepat sambil tetap ber-PK PK.

Lepas Semanggi, masuklah saya ke jalur lambat lagi dan mencari gedung yang tempat parkirnya gak ribet.  Akhirnya pilihan panik jatuh pada S.Widjojo Center.  Lumayan lah tempatnya dan langsung parkir di belakang secara menyenangkan ga perlu nyari parkir susah-susah.  Masuk kedalam dengan setengah berlari… menahan hasrat memenuhi panggilan alaaaamm… terus sok-sok masuk ke perpustakaannya British Council.  Sungguh sempurna rencana ini karena didalem perpus itu banyak anak seumuran saya yang dandanannya gak jauh beda lah… funky-funky keren gitu.  Sok-sok mau ngambil brosur… padahal udah kebelet bukan main.  Akhirnya nanya sama si mbak yang nunggu:

“Mbak, restroomnya dimana ya?”
“Oh, itu ke kanan nanti lurus pintu pertama di kiri ya”
“Makasih”

Sok jalan tenang keluar dari perpus terus SPRINT ke WC yang ditunjukkan.  Pas banget begitu masuk kok ya KOSONG MELOMPONG!!!

Dengan bahagianya saya melepas hasrat.

Ketika upacara selesai, refleks saya mencari selang pembersih… dan TIDAK ADAAAA!!! HAYAAAHHHH!!!! Pake tissue?  Neng, walaupun kalo ngomong suka keminggris dan kebarat-baratan, soal yang satu ini mah saya Indonesia banget… gak bisa kalo gak ada aeeerrr!!!

Lagi bingung-bingung gitu, tiba-tiba pandangan saya tertumbuk pada tiga botol berisi air yang berderet di lantai sebelah kanan.  Mungkin ini gunanya untuk…

Akhirnya I utilized them.  Thank God.

Dan baru-baru ini saya baru dikasi tau sama temen saya yang kerja disana… bahwa benar botol2 tersebut memang untuk bebersih… tapi mannernya adalah kalo abis pakai mohon diisi kembali demi kepentingan dan kenyamanan bersama.  Saya cuma bisa senyum-senyum penuh rasa bersalah.

Believe me guys, stuck ditengah traffic Jakarta bukanlah hal yang paling buruk di dunia.  Hal yang paling buruk di dunia adalah stuck ditengah traffic Jakarta dengan kondisi ingin pupi setengah mati.  Apakah pemerintah peduli sama keadaan ini?  Bukannya bikin WC umum yang bersih dan nyaman… dia malah asik asik bikin busway…

PLIS DEH!

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


And I Still Ask… Why?

18 05 2008

As for many Jakartan motorists, motorcycles and their riders are the bane of existence – including fellow motorcyclists. Check these points and tell me if I missed anything:

  • riding without a helmet
  • riding with more than 2 people on board
  • riding at night without turning the lights on
  • going against red lights
  • going against one-way roads
  • although still waiting for the red light, but strategically positioned beyond the red light line mark
  • riding on the pavement
  • making all sorts of noises for no apparent reason (horns and mufflers included)
  • unnecessary speeding
  • revving up the engine for no apparent reason
  • filling up any empty space possible
  • never stopping for pedestrians
  • never can wait in line – has to go ahead of everyone
  • carrying all sorts of stuff while riding a motorcycle – 50 kg bag of rice, 2×4 m wood panel, washing machine, 10 m steel rods, television, computer, home aircon, 24 live chickens, and so on

Did at some point motorcyles get written out of the traffic laws?

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


May I Cut This Line? Please?

17 05 2008

Whether on the road, in line at the checkout counter, or queuing up for a Transjakarta ticket, or even waiting for the bus to arrive after you bought said Transjakarta ticket, a lot of Jakartans have a knack of cutting lines.
Even in heavy traffic the guy behind you (plus five motorcycles) always try to overtake you, even though they can see a mikrolet slowing everybody down. They utilize every light and sound tool at their disposal until they can overtake one car, then start the whole process again… and I won’t even start about the ‘cars with sirens’ (which will be relegated to another post).

Then there’s the mother of three who in the middle of taking care of her two trolleys of groceries and her hyperactive children, she still manages to jump in line in front of you at the checkout counter when you’re considering buying batteries or chocolate (I’ll take the chocolate, thanks). If you start to give her the look she just ignores you because she’s so busy with her affairs. There’s also the chick who only has to buy lipstick or tampons and just gives a short smile while cutting the line in front of you while saying ‘boleh duluan ya’. Yeah whatever! I can wait here until the cashier actually comes to me.

I myself even had an incident when in line for a Transjakarta ticket. The line was only 2 people long but this guy still cut in straight to the ticket counter, all smiles, leaning in just a bit to give money to the cashier. I said ‘Mas, antre dong mas’ and he only smiled apologetically while waving his hand to me. Tempers rised, but I didn’t say anything – yet. I just kept staring at him, dumbfounded by the lack of…. too many to mention, but when he noticed I was still staring at him he said ‘nggak usah pake marah dong’. Eh? You cut in my line, don’t even pretend to be sorry, don’t even know that it’s supposed to be wrong or at least improper, and I’m not supposed to be angry? So I said to him ‘emang kenapa kalau marah???’ while passing him. I was too pissed to actually make a fuss about it, so I ignored him all the way to my bus stop.

And I think everybody has a story of waiting in line to actually get into the bus. Even if some people actually try to make a proper line, there will always be some person who comes in the bus stop and just walks over to the access door. Then another. Then another. And another…. and their friends. So by the time the bus actually stops by, the line is screwed big time, and it’s every man for himself! Feet will be trodden, elbows will fly and the bus conductor will try (and fail) to organize the mob entering his bus. And when every does get in, everybody stays standing near the doors! As if there’s no other place to stand, even if there are empty seats at the end. So the mobbing happens again at the next bus stop…

Then there’s always the motorcycle or car which always tries to push ahead in gridlocked traffic, even though it’s actually people like them who made the gridlock in the first place. And utter chaos ensues, and even more chaos as if the traffic is stuck, the more likely people will honk their horns in frustration (or even absent-minded relfex to honk if the vehicle in front of you is not moving).

Surely a modern society like Jakarta can learn to wait in line properly? Plis dehhhhh…..

Blogged with the Flock Browser

Tags: , , , ,

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList


Lampu Merah

17 05 2008

Pernah nggak, lagi di lampu merah, beberapa dari peristiwa ini terjadi:

  1. mobil belakang klakson-klakson padahal mobil depan belom jalan
  2. mobil belakang klakson-klakson dan main lampu dim padahal mobile depan belom jalan
  3. motor-motor sebelah kiri dan kanan klakson berkali-kali saat lampu kuning ke hijau (belum hijau ya)
  4. ada pengamen atau pengemis lagi berdiri tengah jalan tanpa usaha minggir padahal lampunya sudah hijau
  5. ada pengamen atau pengemis lagi berdiri tengah jalan tanpa usaha minggir padahal lampunya sudah hijau, dan mobil-mobil dan motor-motor di sekitar sudah berisik
  6. bis depan masih ngambil atau nurunin penumpang padahal lampu hijau
  7. bis depan masih ngambil atau nurunin penumpang padahal lampu hijau dan mobil-mobil dan motor-motor di sekitar sudah berisik
  8. ada yang masih maksa nyeberang jalan padahal lampu sudah hijau
  9. lampu belum hijau tapi mobil-mobil dan motor-motor belakang memaksa untuk maju terus karena ‘biasanya’ jalan terus aja
  10. baru mau maju pas lampu hijau ada motor-motor yang masih berusaha menerobos, kadang-kadang diikuti angkutan umum
  11. pas lampu merah, ada beberapa motor berusaha menunggu di depan garis batas

atau ada kejadian lain? let me know.

Book Mark it-> del.icio.us | Reddit | Slashdot | Digg | Facebook | Technorati | Google | StumbleUpon | Window Live | Tailrank | Furl | Netscape | Yahoo | BlinkList